Bangkit Dari Bangkrut
Minggu malam itu, angin dari Sungai Meriak menyusup pelan melalui jendela suite utama di lantai dua. Cahaya lampu tidur kuning redup menerangi wajah Tari yang kesal. Dia mondar-mandir sambil memegang ponsel, sinyal WiFi hanya satu batang yang bolak-balik hilang. “Papi! WiFi apaan sih ini? Di apartemen Jakarta, streaming lancar jaya, kerja remote mulus. Sekarang? Kayak balik ke zaman batu!” keluh Tari sambil melempar ponsel ke kasur. Reza duduk di tepi tempat tidur, mata lelah tapi tegas. “Mami! Kita sudah nggak punya apa-apa lagi di Jakarta. Properti bangkrut, untung aja kita udah gak punya utang. Mobil sedan di parkiran itu juga cuma sisa-sisa penampilan. Warisan ini... satu-satunya harapan kita.” Tari menoleh tajam. “Harapan? Daripada susah di kampung begini, mending aku ikut anak-anak di Yogya! Mereka butuh Mami, bukan Papi-nya yang sibuk mimpi besar.” Reza menarik napas dalam. “Anak-anak masih kuliah. Justru di sini kita harus cari akal biar bisa kirim biaya mereka setiap bulan. Ka...