Bangkit Dari Bangkrut



Minggu malam itu, angin dari Sungai Meriak menyusup pelan melalui jendela suite utama di lantai dua. Cahaya lampu tidur kuning redup menerangi wajah Tari yang kesal. Dia mondar-mandir sambil memegang ponsel, sinyal WiFi hanya satu batang yang bolak-balik hilang.


“Papi! WiFi apaan sih ini? Di apartemen Jakarta, streaming lancar jaya, kerja remote mulus. Sekarang? Kayak balik ke zaman batu!” keluh Tari sambil melempar ponsel ke kasur.


Reza duduk di tepi tempat tidur, mata lelah tapi tegas. “Mami! Kita sudah nggak punya apa-apa lagi di Jakarta. Properti bangkrut, untung aja kita udah gak punya utang. Mobil sedan di parkiran itu juga cuma sisa-sisa penampilan. Warisan ini... satu-satunya harapan kita.”


Tari menoleh tajam. “Harapan? Daripada susah di kampung begini, mending aku ikut anak-anak di Yogya! Mereka butuh Mami, bukan Papi-nya yang sibuk mimpi besar.”


Reza menarik napas dalam. “Anak-anak masih kuliah. Justru di sini kita harus cari akal biar bisa kirim biaya mereka setiap bulan. Kalau nggak, semuanya hilang—kuliah mereka, masa depan mereka. Kita.”


Tari diam sejenak, tapi matanya masih berkaca. Dia berbalik, meninggalkan Reza dengan keheningan yang hanya diisi gemericik sungai di luar.


-----


Senin pagi (Hari ke-2), matahari baru menyembul, Reza sudah berlari ringan di track konblok yang mengelilingi pekarangan 10 hektar. Udara segar bercampur aroma tanah basah, suara ayam dan bebek terdengar di posisi agak jauh.


Reza bertemu Pak Maman, pria berusia 54 tahun dengan topi caping lusuh, sedang memeriksa tanaman pepaya.


“Pak Maman, kebun karet 100 hektar itu di mana?” tanya Reza, napasnya masih terengah.


“Jauh. 25 km kalau naik kendaraan darat. Kalau naek Speedboat, kisaran 15 menit. Tapi, harus izin samo Bi Fatimah dulu,” jawab Pak Maman sambil menyeka keringat.


Reza mengangguk, tapi pikirannya sudah melayang, "Tanah 10 hektar ini... Kalau dikembangkan jadi resort eco atau villa pinggir sungai, bisa balik modal dalam 5 tahun. Passive income-nya bisa sepuluh kali lipat."


Siang harinya, Hendra dan Nadia sibuk memotret sudut-sudut rumah panggung. Reza habis jogging, langsung menuju gym sederhana di lantai bawah—ruang kecil dengan treadmill tua berdebu, sepasang dumbel karatan, dan kipas angin yang berderit.


Dia naik treadmill, mulai berlari. Tiba-tiba, lampu berkedip lalu padam. Panel surya overload. Reza berhenti mendadak, hampir jatuh.


Pak Bowo muncul dari pintu belakang, keringatan sambil bawa cangkul. “Maaf, Reza. Panelnya lagi capek.”


“Hadeh, gimana sih Pak Bowo? Ini namanya mandiri apa primitif?!” bentak Reza. “Di Jakarta, gym 24 jam, listrik nggak pernah mati!”


Bi Fatimah muncul dari dapur, senyum tipis. “Tuan Haji pernah ngomong, keringat kampung lebih sehat daripado keringat karena mesin modern. Cubo Reza bantu Pak Bowo di kebun sayur, biar seger badannyo.”


Reza tersinggung berat. Dia mematikan treadmill dengan kasar, lalu berbalik ke kamar dengan muka merah padam.


Di kamar, Tari sedang menelepon anak mereka di Yogya. Sinyal lemot membuat suara putus-putus. “Iya, Nak... Mami usahakan kirim minggu ini juga... Ya, sabar ya...” Tari menutup telpon, wajahnya penuh kekhawatiran.


Reza masuk. “Mereka bilang apa?”


“Butuh bayar kuliah minggu ini, Pi. Sudah diundur dua kali,” jawab Tari pelan.


Reza meledak. “Kamu gak bisa sabar?! Kita lagi susah, Mi!”


Dia langsung masuk kamar mandi, membanting pintu. Tari menghela napas panjang, lalu keluar kamar sambil bergumam sendiri.


Sore itu di ruang makan besar—meja kayu panjang yang bisa muat 20 orang, dinding panel geometris khas Sumsel, aroma masakan kampung dari dapur stainless—Dimas dan Lina sedang ngobrol dengan Bi Fatimah.


“Minimarket yang paling dekat dimano, Bi Fatimah?” tanya Dimas.


“Sekitar 20 km dari sini, Dimas. Harus pakai mobil atau motor kalau ke sano. Aturan almarhum Tuan Haji ketat, keluar, harus izin dengan saya dulu,” jawab Bi Fatimah sambil menyeduh teh.


Tari muncul, masih ngedumel. “Saya butuh kirim uang ke anak di Yogya, tapi nggak boleh keluar rumah! Gimana ini?”


Bi Fatimah menatapnya tenang. “Berapa nomor rekeningnya, Tari? Bi Fatimah kirimkan dari dana passive income. Ini sudah diatur Tuan Haji sejak dulu.”


Tari terdiam kaget. “Beneran, Bi?”


Malam harinya, Tari masuk kamar dengan senyum tipis. “Biaya anak kita sudah dikirim, Pi. Dihitung hutang ya, kata Bi Fatimah.”


Reza menghela napas lega. “Bagus. Sekarang kita fokus untuk betah setahun di sini, Mi. Setelah itu... kita ubah semuanya jadi lebih besar.”


-----


Rabu pagi (Hari ke-4), sarapan bareng di ruang makan. Reza mulai cerita masa lalu: “Dulu di Jakarta, hidup mewah. Apartemen tinggi, mobil mewah. Tapi over-leverage, properti gagal. Haji adopsi aku pas remaja, janji ‘meneruskan dinasti’.”


Dimas menyeringai sinis. “Dinasti? Sekarang dinasti apo, Kak Reza? Dinasti karet atau dinasti utang?”


Hendra hanya diam, matanya penuh iba ke Reza.


Siang di gazebo pinggir sungai, angin sepoi membawa aroma air sungai. Hendra berbisik ke Nadia: “Kak Reza berusaha positif, tapi kelihatan dipaksa. Ambisinya besar, tapi hatinya rapuh banget.”


Nadia, "Kenapa mereka terlalu fokus ke warisan? Why not just enjoy the vibe of this place?"


Malam Rabu, Reza duduk sendirian, merencanakan telpon teman Jakarta pas Jumat.


-----


Jumat siang (Hari 6), habis sholat Jumat, Dimas dan Hendra bertanya, “Mau ke mana, Kak Reza?”


“Cari sinyal bagus,” jawab Reza singkat.


Mereka ingatkan: “Kabur = warisan hangus.”


Reza mengangguk, lalu pergi dengan sedan hitamnya.


Sore di alun-alun Kabupaten Gelumbang, mobil parkir di cafe kecil. Reza menelepon teman Jakarta berulang kali. Tak diangkat. Wajahnya semakin kesal, tangannya mengepal.


Malam menjelang maghrib, semua berkumpul di teras rumah panggung. Lampu rumah menyala redup, sungai di belakang mulai riak pelan. Tari mondar-mandir cemas, yang lain memandangnya seolah menyalahkan.


Bi Fatimah berkata pelan: "Apo Reza ni bisa dipercayo? Ngapo sampe jam segini belum pulang?”


Dimas menyeringai sinis. “Besak gaya uwong kota yang frustasi, nak tinggal di dusun.”


Tari jengkel ke Dimas.


Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara mesin mobil mendekat... tapi berhenti di gerbang yang jauh. Lampu depan menyala terang. Semua tegang.


Suara mesin semakin dekat... lalu stop tepat di depan rumah. Reza turun dengan wajah lelah tapi tegas.


Dimas langsung nyerocos: “Nak kabur yo tadi? Untung balik, kalau idak, kito semua rugi!”


Reza menatapnya dingin. “Aku nggak kabur. Aku cuma cari sinyal. Dan aku balik karena ini rumahku sekarang.”


Keributan kecil pecah sebentar antara kubu Reza-Tari dan Dimas-Lina. Hendra dan Nadia tak bisa berbuat banyak, untung Bi Fatimah menenangkan.


Bi Fatimah, "Sudahlah, dak usah ribut. Kito samo-samo. Kalau salah satu keluar dari rumah ini, semua dak dapat warisan."


Reza dan Dimas berhenti ribut.


Bi Fatimah, "Kali ini Bibi maafkan, Reza. Tapi lain kali, Bibi lapor ke Pak Wiranto, pengacara aset Haji Rahman."


Reza terdiam.


Malam itu, Reza sendirian di suite-nya. Dia membuka laci meja kecil di samping tempat tidur—mungkin warisan dari Haji. Di dalamnya ada foto lama: Haji Rahman muda tersenyum bersama seorang wanita cantik dan bayi mungil yang mirip sekali dengan Reza kecil.


Di belakang foto, tulisan tangan gemetar: “Anakku yang sebenarnya... jangan pernah tahu.”


Reza terpaku. Tangannya gemetar hebat. “Kenapa foto ini mirip aku? Nggak mungkin... aku kan hanya anak angkat?”


Di luar jendela, Sungai Meriak yang tadinya tenang tiba-tiba riak lebih keras, seperti ikut berbisik rahasia yang lama terkubur.


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK

JUDUL EPISODE 2: BANGKIT DARI BANGKRUT

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Panggung di Tepi Sungai Meriak

Warisan Sungai Meriak