Rumah Panggung di Tepi Sungai Meriak




Pagi di hari Minggu itu (hari ke-1), kabut tipis masih menyelimuti sungai Meriak (anak sungai Musi) yang riaknya tenang seolah menyimpan cerita lama dari hulu hingga muara. Di pinggir sungai yang hijau dan subur, berdirilah sebuah rumah panggung cukup besar, tiang dan lantainya berupa cor-coran kuat, sedang dinding masih memakai ornamen kayu unggulan dari Sumatera Selatan. Bentuk bangunan menyerupai "Museum Sultan Mahmud Badaruddin II", namun lebih kecil. Rumah ini berlokasi di kecamatan Muara Belida, KABUPATEN GELUMBANG, provinsi Sumatera Selatan. Ini adalah rumah warisan dari almarhum Haji Rahman bin Rohim.


Rumah membelakangi sungai tersebut memiliki banyak panel surya di atap genteng-nya, menunjukkan kemandirian energi. Sebuah tower "water tank" besar berwarna jingga juga nampak di samping rumah, menggambarkan bahwa fasilitas air bersih di rumah itu terjamin, sekaligus mengingatkan akan water tank milik "Warner Bros". Sistem drainase yang baik, dimana tanah tempat rumah itu berdiri di lokasi semacam bukit kecil yang tingginya sekitaran 3 meter dari pinggir sungai, sedangkan kawasan rumah lain di posisi lebih rendah. Pekarangannya memang luas, totalnya 10 hektar, dikelilingi oleh pagar kawat. Posisi rumah panggung berada di pinggir sungai, jaraknya sekitar 300 meter ke gerbang utama yang berada di pinggir jalan kecamatan Muara Belida.


Rumah utama bertingkat 2. Lantai dasar untuk ruang bersama: ruang tamu luas berdinding panel geometris, dapur modern lengkap stainless steel, ruang makan besar muat 20 orang, perpustakaan kecil penuh buku lama Haji Rahman, dan gym sederhana. Lantai dua memiliki 5 kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam masing-masing di setiap kamar. 


Pekarangan luas 10 hektar diisi dengan konsep "4 sehat 5 sempurna". Dimana ada kebun sayur organik; beberapa tanaman buah; peternakan ayam, bebek dan ikan. Ada jalan setapak ber-konblok mengelilingi area (semacam jogging track), gudang peralatan tani yang berupa bangunan sendiri berjarak 5 meter di samping rumah, gazebo kayu sederhana di pinggir sungai, serta dermaga kecil lengkap dengan perahu dayung dan speedboat untuk menikmati sungai.


Haji Rahman, pengusaha sukses di bidang perkebunan karet, memulai renovasi dua dekade lalu dari rumah keluarga lama yang reyot. Ironisnya, tepat saat proyek selesai, beliau meninggal mendadak karena serangan jantung. Kabar duka menyebar cepat di Kabupaten Gelumbang, meninggalkan rasa kehilangan sekaligus penasaran.


Ia meninggalkan nilai aset total fantastis untuk hitungan pedesaan: rumah dan pekarangan 10 hektar, perkebunan karet produktif 100 hektar (jaraknya 25 km dari rumah), serta deposito di "Bank Aman Cabang Gelumbang" yang konon berjumlah miliaran rupiah. Jika dicermati, passive income dari seluruh aset itu  cukup untuk membiayai semua kebutuhan—makan, kebutuhan ini-itu, dsb—selama sesuai budget ketat yang ditentukan almarhum yang dipercayakan ke Bi Fatimah (52 tahun).


Kedatangan ahli waris dimulai saat matahari meninggi, membakar kabut perlahan. Sedan hitam mewah dari Jakarta (plat B) muncul dengan berjalan menanjak menuju ke area parkiran rumah. Suami-istri Reza Pratama (42 tahun) dan Tari Rahmawati (32 tahun), masing-masing membawa satu buah koper besar yang memiliki roda. Reza memandang ke arah rumah dengan tersenyum.


Tak lama muncul lagi sepasang suami-istri Dimas Wijaya (39 tahun) dan Lina Susanti (35 tahun) dengan menggunakan SUV double cabin dari Palembang (plat BG). Mereka masing-masing membawa tas traveling biasa, tapi ukuran besar.


Kemudian datang pula mobil MVP standar, yang membawa Hendra Kusuma (27 tahun) dan  Nadia Putri (26 tahun) dari Bali (plat mobil DK). Mereka masing-masing membawa tas ransel besar ala backpacker.


Ketiganya tak saling kenal satu sama lain. Reza, adalah anak angkat almarhum Haji Rahman, sebab pak Haji tak punya anak. Dimas adalah anaknya sepupu Haji Rahman. Sedangkan Hendra adalah orang lain, tak ada ikatan keluarga.


Tari menunjukkan bahwa dia kurang suka dengan suasana pedesaan, sementara Lina seperti menemukan kerinduan akan suasana kehidupan kampung, sedang Nadia langsung memotret keadaan rumah.


Bi Fatimah menyambut di teras depan, kebaya sederhana kontras dengan rumah megah. “Selamat datang. Tuan Haji sudah atur segalanya. Mari masuk.”


Mereka dibawa ke ruang tamu luas—sofa minimalis nyaman.


Pengacara Pak Wiranto (51 tahun) menunggu. “Wasiat dibacakan sekarang.”


Semua duduk melingkar, hening antisipasi. Pak Wiranto baca tenang: “Saya, Haji Rahman, meninggalkan Rumah beserta pekarangan 10 hektar, perkebunan karet 100 hektar, dan deposito miliaran kepada: Reza Pratama, Dimas Wijaya dan Hendra Kusuma.


Syarat: tinggal bersama di rumah dan pekarangan 10 hektar selama satu tahun penuh, tanpa keluar lahan ini. Kecuali keluar untuk urusan ke masjid tiap hari Jumat, atau ke kebun karet 100 hektar dengan menggunakan Speedboat/Perahu. Jika melanggar, warisan hangus ke yayasan. Passive income biayai hidup kalian, dikelola Bi Fatimah sesuai budget.


Alasan saya: ingin kalian belajar hidup bersama seperti keluarga sejati. Mungkin di sini kalian akan temukan apa yang hilang dari hidup kalian.”


Hening sesaat. 


Reza dalam hati, “Aset dan bisnis miliaran—harus diselamatkan!”


Di benaknya Dimas berucap, “Kagek aku jual semua aset ini, untuk modal usaha ritel impianku." Dimas menatap sinis ke Reza.


Hendra membatin, "Hmmm... Rasanya akan banyak yang menarik. This house appears to be hiding something." Hendra diam-diam mengamati ekspresi semua orang.


Bi Fatimah lalu mengajak mereka berkeliling rumah untuk memilih kamar. Dengan senyum tipisnya yang khas, dia menjelaskan pembagian yang sudah jadi kesepakatan awal—berdasarkan kebutuhan dan status masing-masing.


Reza langsung mendapat suite utama di lantai 2 paling belakang, menghadap sungai. Sedangkan Dimas dapat bagian kamar tengah, yang menghadap ke gudang samping. Sementara Hendra dapat kamar kecil di bagian depan rumah, yang menghadap ke parkiran. Di antara kamar ada 2 kamar kosong yang tak boleh dibuka. Sedang Bi Fatimah (beserta suami) tinggal di gudang peralatan tani yang menyatu dengan kamar mereka.


Hari pertama berlalu dengan eksplor rumah dan pekarangan. Pak Bowo (suaminya Bi Fatimah, 56 tahun) menjelaskan banyak hal, ia menekankan bahwa almarhum Haji Rahman ingin hidup di tanah itu dengan menerapkan sistem "off-grid", "mandiri pangan", dsb. Itulah alasan Pak Haji Rahman membeli tanah 10 hektar tersebut.


Semua mulai merasa ini awal petualangan panjang—penuh harapan, tapi juga bisikan pertanyaan tak terucap. Mengapa Haji Rahman meninggalkan warisan kepada mereka bertiga yang tak saling kenal satu sama lain?


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: RUMAH PANGGUNG DI TEPI SUNGAI MERIAK

JUDUL EPISODE 1: BANGKIT DARI BANGKRUT

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangkit Dari Bangkrut

Warisan Sungai Meriak