Catatan dari ASEAN



Minggu pagi (Hari ke-8) di gazebo pinggir sungai Meriak, angin sepoi membawa aroma air tawar yang segar. Dimas masih berdiri tegang di sana, wajahnya pucat setelah riak keras tadi. Hendra lewat sambil bawa kamera, menghampiri dengan langkah santai.


Dimas langsung ajak, “Hendra! Cepat  foto sungai ini. Aku barusan liat sesuatu... besak nian."


Hendra mempersiapkan kameranya, "How big?"


Dimas, "Besak pokoknyo. Kato Bi Fatimah tadi, sungai ini punyo otak. Biso ingat samo kito.”


Hendra angkat alis, tak percaya. “Sungai punya otak? Come on, Bro. But alright, I'll take a photo for you." Dia angkat kamera, jepret beberapa kali permukaan air yang sudah tenang lagi. Hendra tersenyum tipis, seolah menghibur Dimas yang mulai kelihatan aneh, mata masih melirik sungai curiga.


Siang harinya di dapur modern stainless steel, aroma sayur segar tercium saat Lina masuk bawa keranjang penuh tomat dan selada dari kebun. Nadia dan Tari sudah di sana, Nadia sibuk mengecek kameranya, Tari lagi cuci tangan.


Lina meletakkan keranjang, lalu bilang: “Aku ambil lagi yang lain di kebun ya.” Dia keluar lagi.


Nadia panggil: “Lina, wait! Ini sudah cukup kok.”


Lina tak kembali. Tari tanya ke Nadia sambil mengeringkan tangan: “Nad, kamu dan Hendra dukung siapa? Reza atau Dimas?”


Nadia geleng kepala pelan. “We don’t really take sides, Mbak Tari. Hendra and I just want to enjoy living here, mumpung diberi kesempatan. It’s not about money for us.”


Tari kaget, matanya melebar. “Bukan soal duit? Tapi... kalian kan juga pewaris.”


Nadia tersenyum. “Exactly. But we see this place as an adventure, not a prize.”


Di sisi lain, Pak Bowo muncul menghampiri Dimas dan Hendra yang masih di gazebo. Mereka berdua ternyata menunggu kehadiran sesuatu "besar" yang dimaksud Dimas. Mata mereka tertuju ke sungai, seolah mengharap “sesuatu” itu muncul lagi.


Pak Bowo dengan santai, sambil usap keringat: “Paling jugo ikan patin besak. Nelayan di sungai Meriak ini kadang sering dapat. Tapi yo, jarang-jarang.”


Dimas mengangguk, tapi masih gelisah. Hendra cuma tersenyum, simpan kameranya kembali.


Di kamar Reza-Tari, Tari masuk menemui Reza yang sedang mengeluarkan laptop dari tas koper. Udara kamar terasa lembab karena jendela menghadap sungai. Tari cerita: “Pi, Nadia tadi bilang, mereka nggak ngincer warisan. Hendra dan Nadia cuma mau nikmatin hidup di sini.”


Reza senang bukan main, matanya berbinar. “Bagus! Kalau Hendra dan Nadia gak mengincar, berarti tinggal Dimas-Lina saingan kita. Kita bisa dominasi rencana ini!”


Sore harinya di perpustakaan kecil (lantai dasar, rak-rak penuh buku lama Haji Rahman, aroma kertas tua samar tercium). Hendra duduk wawancara Pak Bowo soal sejarah rumah.


Pak Bowo cerita, “20 tahun Tuan Haji renovasi rumah ini. Tapi cerito hidup berkata lain. Rumah selesai, Tuan Haji meninggal dunia.


Hendra, "Belum sempat dia menikmati tinggal di rumah ini?"


Pak Bowo, "Belum. Tapi aku ingat dio pernah cerita. 3 tahun lalu, Tuan Haji nyaris tewas ditabrak kereta. Untung ado pemuda yang selamatkan. Tapi sampai sekarang, aku idak tau siapo pemuda itu.”


Hendra diam sejenak, ingat flashback: momen dia tarik Haji dari rel kereta api di stasiun ramai, suara klakson kereta menggelegar, bau besi panas rel, dan napas Hendra terengah saat menarik Haji ke samping. Hendra selamatkan nyawa Haji, tapi tak pernah perkenalkan diri.


"Tuan Haji meraso berhutang budi dengan pemuda itu," lanjut Pak Bowo.


Hendra merahasiakannya dari Pak Bowo. Mereka lanjut membahas perjalanan Hendra keliling ASEAN bersama Nadia, sampai kemudian tinggal setengah tahun di Bali, baru pindah ke sini.


“Saya sering investigasi di Thailand, Vietnam, Malaysia—tapi capek selalu jadi orang luar. Saya ingin ‘pulang’, tapi gak tau kemana.”


Pak Bowo mengangguk simpatik.


Malam di ruang tamu luas, cahaya lampu redup membuat suasana hangat tapi tegang. Reza tanya Hendra yang duduk santai: “Hendra, kamu dukung aku atau Dimas?”


Hendra geleng kepala. “Neither, Kak. Saya dan Nadia tak memikirkan warisan, walaupun kami punya hak. We’re here for the story, not the money.”


Reza penasaran: “Kalau nanti kalian dapat, gimana?”


Hendra jujur: “Kami terima, tapi akan biarkan tempat ini seperti adanya. Not like your plan to develop it, or Dimas who wants to sell everything.”


Di dapur (aroma masakan malam masih menempel), Lina-Tari membahas Hendra dan Nadia. Tari: “Aku heran, Hendra dan Nadia apa sepasang suami-istri ya? Kok nggak pakai cincin kawin?”


Lina menggeleng: “Idak usah dipikir, Yuk Tari. Yang penting mereka dak usil samo kito. Jadi kito jangan ganggu mereka.”


-----


Senin pagi (Hari ke-9) di depan rumah panggung, Hendra memotret Dimas dan Lina yang bergaya. Dimas: “Ini kenang-kenangan sebelum rumah dijual. Kagek kirim ke calon pembeli. Edit bagus-bagus yo, Ndra.”


Hendra, "Okay, Bro."


Siangnya di kamar Hendra-Nadia (kamar kecil depan menghadap parkiran), Nadia bantu edit foto di laptop. Chemistry mereka dekat tapi profesional, seperti partner lama. Hendra berbisik: “We're partner, bukan suami-istri. Biar mereka mikir sendiri dulu.”


Nadia mengangguk: “Yeah, focus on the story. Warisan ini pasti punya cerita besar tentang Haji.”


Hendra lihat foto sungai tadi, “I think, di Sungai Meriak ini... ada misteri. Kata Pak Bowo, namanya ‘meriak’ karena sering bergolak tiba-tiba.”


Nadia ikut memandangi hasil jepretan Hendra.


Sore saat Hendra hendak serahkan foto ke Dimas di ruang tamu, Reza datang merobeknya. “Tidak boleh dijual!” teriak Reza.


Reza dan Dimas ribut lagi, mereka sudah saling cekik kerah. Tari, Lina, Hendra dan Nadia kali ini tak peduli. Mereka pergi tinggalkan Reza dan Dimas yang terus mempermasalahkan antara "dipertahankan dan dikembangkan" atau "dijual"?


Angin malam sejuk. Hendra & Nadia malam-malam di gazebo. Hendra buka catatan lama Haji dari perpustakaan (pinjam diam-diam). Temukan halaman robek: “Hendra... anak sahabatku. Dia yang akan ungkap semuanya.”


Hendra kaget. Nadia, “Jadi kamu bukan orang asing total?”


Hendra, “Entahlah! Ayo kita masuk. Sudah malam!”


Hendra dan Nadia masuk rumah, melewati salah satu kamar kosong yang tak boleh dibuka. Terdengar suara ketukan pelan dari dalam. 


Lampu koridor redup, bayangan mereka memanjang di dinding kayu, dan ketukan itu... berhenti begitu mereka mendekat.


Hendra & Nadia saling pandang, bulu kuduk merinding.


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK

JUDUL EPISODE 4: CATATAN DARI ASEAN

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangkit Dari Bangkrut

Rumah Panggung di Tepi Sungai Meriak

Warisan Sungai Meriak