Barang Yang Harus Dikembalikan



Siang setelah kabar Mang Meron meninggal (Hari ke-121), Reza-Dimas-Hendra-Pak Bowo-Pak Maman sholat jenazah di masjid bersama orang-orang kampung. Udara siang terasa panas dan lengket, tapi mereka tetap khusyuk. Setelah itu mereka memakamkan Mang Meron di pemakaman umum desa seberang sungai. Angin membawa bau tanah basah dari sungai, seolah ikut mengantar. Pulang dari pemakaman, mereka disambut oleh Bi Fatimah di teras rumah panggung.


Reza: “Bi! Kalau kami pergi melayat Mang Meron ini dianggap melanggar aturan, kami terima.”


Hendra: “Benar, Bi. Kami gak masalah, gak dapat warisan apa-apa.”


Dimas: “Mungkin lebih baik warisan Haji Rahman untuk yayasan bae, Bi.”


Bi Fatimah menggeleng pelan, senyum tipis di bibirnya. “Idak. Syarat itu idak berlaku untuk kejadian melayat. Kalian masih punya hak waris.”


Reza, Dimas dan Hendra lega. Mereka saling pandang, napas terasa ringan.


Beberapa minggu kemudian, tepatnya Rabu hari ke-147, istri Mang Meron datang ke rumah panggung. Perempuan paruh baya itu berpakaian sederhana, membawa bungkusan kain putih kecil di tangannya. Wajahnya penuh duka, tapi matanya tegas.


Semua berkumpul di ruang tamu. Istri Mang Meron bicara pelan: “Aku menemukan benda ini di rumah. Keliatannyo, suamiku mengambil barang ini waktu kalian angkat peti.”


Dia membuka kain: sebuah batu sungai kecil berukir simbol kuno, halus tapi terasa berat di tangan. 


Dimas gemetar. “Jadi... kareno batu ini, Mang Meron...?”


Istri Mang Meron mengangguk pelan. “Apa yang diambil, harus dikembalikan pada tempatnya.”


Sore itu, batu keramat tersebut ditaruh sebagai pajangan di rak kaca perpustakaan—mereka pikir “tempatnya” adalah rumah. 


Semua merasa lega. Sungai di luar terlihat tenang, tidak ada riak lagi.


Bi Fatimah tersenyum. “Kalian sudah kompak. Tuan Haji pasti puas.”


Dimas menunduk. “Aku idak mau jadi korban berikutnyo. Aku ikut kalian. Kito kelola warisan ini bersamo.”


Reza memeluk Dimas. “Kita sudah jadi keluarga.”


Hendra memandang batu di rak. “Dulu orang tuaku jadi korban. Sekarang... mereka bisa tenang.”


-----


Selasa hari ke-153; Reza, Tari, Dimas, Lina, Hendra dan Nadia membahas kesimpulan mereka tentang kutukan.


Hendra mulai: “Sejarah tanah 10 hektar di pinggir sungai Meriak ini berasal dari leluhur Haji Rahman. Berarti Kak Reza dan Kak Dimas masih keturunan. Kalo aku... utang budi nyawa.”


Dimas mengangguk. “Sebelum renovasi, ini rumah terkutuk. Untuk lepas dari kutukan, harus 100% renovasi. Loteng sudah selesai... berarti kutukan sudah selesai. Idak ado lagi, harusnyo.”


Reza: “Iya. Sungai sudah tenang. Kita sudah lepas.”


Tari: “Sekarang yang jadi masalah, gimana kita habiskan sisa waktu sampai hari ke-365?”


Lina: "Aku sih udah cocok di sini. Impianku tercapai berkebun sayur, idak seperti di perumnas."


Nadia: "I am too. Ada banyak spot bagus untuk motret di sini. Aku yakin, masih banyak yang belum di-explore."


Sore di gazebo, Pak Bowo-Bi Fatimah-Pak Maman berkumpul. Reza, Dimas dan Hendra menghampiri mereka.


Dimas: “Ado apo, Bi?”


Reza: “Kata Tari, bibi panggil kami?”


Hendra: “Apa masih ada yang belum beres dari sungai ini?”


Bi Fatimah menjelaskan: “Bukan. Bukan itu. Tadi dapat kabar dari kebun karet 100 hektar, ado 6 hektar yang tukang sadapnya pindah."


Pak Bowo: "Bi Fatimah sarankan kalian sadap sendiri, 1 orang 2 hektar. Buat isi waktu sama tambahan uang."


Pak Maman: "Lumayan, biso untuk beli jaringan internet kencang."


Reza, Dimas, dan Hendra saling pandang. Mereka setuju.


-----


Senin hari ke-166 Reza, Dimas dan Hendra sudah menjadi penyadap karet di lahan 100 hektar.


Pagi-pagi buta, getah putih menetes pelan dari pohon, tercium juga bau karet segar bercampur embun pagi. Reza tertawa saat getah nyiprat ke mukanya, Dimas mengeluh tapi tetap menyeset kulit dengan hati-hati, begitu juga dengan Hendra.


Siangnya mereka kelelahan, istirahat bersama 3 orang penyadap lain di bawah pohon. Berceritalah 3 orang tersebut ke Reza-Dimas-Hendra. 


Penyadap 1: “Kalau bukan gara-gara almarhum Tuan Haji Rahman, kami idak kerja."


Penyadap 2: "Tuan Haji memang baik, dio meninggalkan kebun karet produktif ini."


Penyadap 3: "Totalnyo 100 hektar. Tapi ado yang 1 orang bertanggung jawab 5 hektar."


Penyadap 1: "Kami bersyukur kebun karet 100 hektar ini masih produktif. Dengan begini kami biso membiayai hidup.”


Hati Reza, Dimas dan Hendra tersentuh mendengar curhatan hati mereka.


Reza-Dimas-Hendra pulang dengan menggunakan Speedboat. Bukan main mereka gembira.


Malam saat Reza, Dimas dan Hendra sudah di rumah, mereka nampak lelah. Tari pijitin kakinya Reza, Lina memijat punggung Dimas, hanya Hendra yang paling muda tampak biasa saja.


Bi Fatimah bangga dengan mereka.


Tari usul: “Kalau nanti dapat uang dari tender karet, gimana kalo kita pasang internet satelit aja. Memang mahal, tapi untuk internet lumayan di daerah yang susah sinyal seperti di sini.”


Nadia setuju: “Waktu aku dan Hendra keliling ASEAN, pernah ketemu daerah yang sulit dijangkau akses internet. Tapi pas pakai internet satelit, lumayan banget.”


Lina mendukung.


Rabu hari ke-175 Reza-Dimas-Hendra menimbang getah karet. Getah yang sudah padat dikumpulkan untuk dibawa pakai truk.


Dimas: “Kebunku dulu di sita samo bank. Kareno aku kredit nunggak. Masih ado siso utang yang belum lunas. Rumah kami di Palembang jadi agunannyo."


Reza: “Khabarnya kamu jadi anggota organisasi Gapkindo?”


Dimas: “Iyo. Gabungan Pengusaha Karet Seluruh Indonesia cabang Sumsel. Tapi karirku mandek di situ, susah berkembangnyo.”


Hendra: “Mungkin habis ini karirmu lumayan lagi.”


Dimas: “Sebenarnyo aku lebih sreg ke hilirisasi sekarang. Lelah aku di sektor hulu ini.”


Malam lagi, Reza-Tari-Dimas-Lina-Hendra-Nadia beserta Pak Bowo dan Bi Fatimah makan bersama. Reza, Dimas dan Hendra lahap sekali makan. Maklum habis jadi tukang sadap.


Tari gak sabar pengen punya internet satelit, tapi ternyata nggak cukup hanya dengan 1x tender karet. Butuh beberapa bulan lagi sampai uangnya terkumpul pas.


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK

JUDUL EPISODE 10: BARANG YANG HARUS DIKEMBALIKAN

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangkit Dari Bangkrut

Rumah Panggung di Tepi Sungai Meriak

Warisan Sungai Meriak