Bayangan di Tol
Minggu malam (Hari ke-43) di teras depan rumah panggung, lampu taman kecil menyala redup, angin malam dari sungai membawa aroma lembab tanah. Dua polisi berdiri di depan mobil patroli, lampu biru-merah masih berkedip pelan di kegelapan. Dimas, Reza, dan Hendra mengantar mereka sampai parkiran depan rumah.
Polisi senior mengangguk sopan. “Terima kasih keterangannya, Pak Dimas. Kami cuma butuh konfirmasi pesan terakhir. Kecelakaan di tol Palembang-Indralaya barusan, mobil Pak Dedi oleng, menabrak pembatas. Langsung tewas di tempat. Tidak ada tanda rem mendadak atau sabotase.”
Dimas mengangguk lemas, wajahnya masih pucat. “Terima kasih, Pak.”
Polisi yang lebih muda menimpali sambil melirik ke arah sungai: “Kami di sini sering dengar cerita soal Sungai Meriak. Orang-orang bilang sungai ini... punya ingatan sendiri. Tapi ya, itu cuma cerita rakyat.”
Mereka berdua masuk mobil, lampu biru-merah menghilang di kegelapan jalan Kecamatan Muara Belida. Dimas, Reza, dan Hendra berdiri diam sejenak. Sungai di belakang rumah kembali riak pelan, seperti ikut mendengar.
-----
Senin siang (Hari ke-44) di ruang tamu, Reza mondar-mandir gelisah. Ponselnya sudah berkali-kali telepon ke Tari, tapi tak diangkat. Hendra juga sama, Nadia tak bisa dihubungi sejak kemarin sore.
Reza: “Mereka bilang pulang pagi ini. Tapi kenapa gak bisa ditelpon?”
Hendra: “"I'm puzzled by it too. Semestinya mereka sudah di rumah sekarang."
Dimas muncul dari tangga, wajahnya masih lelah tapi lebih tenang. Dia langsung ambil ponsel, telpon Lina. Suara Lina terdengar samar di speaker: “Pa, kami sudah dalam perjalanan pulang. Sekarang di Tol Palindra. Sinyal lelet, tapi aman. Anak kita baik-baik saja di pesantren.”
Dimas menghela napas lega. “Hati-hati ya, Ma.”
Telpon ditutup. Reza dan Hendra saling pandang, cemas mendengar kata “Tol Palembang-Indralaya”.
Hendra, "Tol itu... Tempat kecelakaan kemaren?"
Dimas menenangkan: “Semoga tidak terjadi apa-apa.”
Tiba-tiba Dimas menatap mereka berdua. “Aku... minta maaf. Aku idak akan jual rumah ini lagi. Kutukan itu nyato.”
Reza terkejut. Hendra mengangguk pelan. “Bagus, Kak Dimas. Kita harus lepaskan kutukan ini bersama.”
Dimas: “Caranyo makmano?”
Hendra: “Diary Haji bilang peti di sungai harus diangkat bersama, dengan hati bersih.”
Di gazebo pinggir sungai, cahaya matahari sore jingga memantul di permukaan air yang tenang. Angin sepoi membawa aroma rumput basah dan bunga kamboja dari pekarangan. Lina, Tari, dan Nadia baru saja pulang dari Palembang, wajah mereka lelah tapi lega. Mereka disambut Reza, Hendra, dan Dimas.
Malamnya di ruang makan, semua berkumpul lagi setelah Lina-Tari-Nadia pulang aman dari Palembang. Meja penuh lauk sederhana, Lina bawa oleh-oleh: pempek panggang Palembang untuk Bi Fatimah, Pak Bowo, dan Pak Maman.
Lina: “Anak kita senang lihat kami. Dia tanya ‘kapan pulang ke rumah baru?’ Aku bilang, sebentar lagi.”
Tari tersenyum lelah: “Aku senang bisa keluar sebentar. Tapi sekarang... aku mulai terbiasa di sini.”
Reza mengajak bicara serius: “Kita harus selesaikan rumah ini. Diary bilang renovasi baru 80%. Kita cari yang 20% lagi dan selesaikan, mungkin kutukan hilang.”
Bi Fatimah mengangguk. “Tuan Haji pernah bilang, rumah ini punya hati. Kalau hati kalian kompak, rumah akan terima.”
-----
Hari pun berganti hingga pagi ke-50, mereka semua di pekarangan membantu Pak Maman panen pisang.
Hendra ke Bi Fatimah: “Bi, boleh buka kamar kosong kedua? Mungkin ada petunjuk.”
Bi Fatimah tersenyum tipis. “Kalau kalian sudah sepakat, silakan.”
Siangnya, Bi Fatimah membuka kamar kosong pertama dan kedua. Semua masuk hati-hati. Nadia menemukan denah loteng tua di kamar kedua, terselip di antara buku-buku usang.
Nadia: “Ini denah loteng. Mungkin ini yang dimaksud ‘20% belum selesai’.”
Reza berteriak dari depan kamar: “Sini! Ada lobang menuju loteng!”
Mereka bergegas. Ternyata ada tangga lipat tersembunyi di plafon kamar kosong pertama.
Hendra, "This is attic ladder".
Reza dan Hendra naik duluan. Loteng gelap, berdebu, penuh kayu bekas renovasi. Nadia cek denah: “Ini dia. Loteng belum selesai plafon dan cat. Kita harus selesaikan agar kutukan hilang.”
-----
Hari ke-90, setelah berminggu-minggu kerja bersama, loteng akhirnya selesai: plafon rapi, cat segar, bahkan ditambah lampu kecil. Reza, Tari, Dimas, Lina, Hendra, dan Nadia berdiri di loteng, senang bukan main.
Bi Fatimah di bawah tangga: “Kalian sudah kompak. Tuan Haji pasti bangga.”
-----
Hari ke-91, Reza-Dimas-Hendra diskusi di gazebo. Hendra: “Diary bilang peti di sungai harus diangkat bersama. But how?”
Dimas: “Aku takut lagi. Aku jadi ingat waktu itu nyaris mati tenggelam."
Reza, "Kamu gak harus ikut menyelam, Dimas."
Dimas menguatkan diri, "Tapi kalau ini caro menghilangkan kutukan, aku ikut.”
Pak Maman datang bersama Mang Meron. Mang Meron: “Aku tahu lokasi peti dari cerita Tuan Haji. Besok kito angkat. Tapi sore ini aku lakukan sesajen dulu di pinggir sungai. Minta restu."
Sore itu di pinggir sungai, Mang Meron melakukan ritual sesajen. Dia menabur bunga kamboja dan daun sirih ke air, sambil membaca mantra pelan dalam bahasa daerah yang tak dimengerti semua orang. Asap kemenyan mengepul tipis, bercampur aroma bunga dan air sungai. Air permukaan bergoyang lembut, riak-riak kecil menyebar seperti menerima sajen itu. Mang Meron menari-nari sendiri. Semua berdiri diam, merinding tapi penuh harap.
Malamnya semua berkumpul di ruang tamu, berharap besok aman. Hendra pamit ke perpustakaan sebentar. Yang lain hendak tidur ke kamar masing-masing.
Di perpustakaan, Hendra menaruh diary Haji kembali di rak. “Ini bukan milikku. Ini milik bersama.”
Dia pergi dari perpustakaan, lewat koridor lantai dua. Saat melintas kamar kosong pertama, terdengar lagi... ketukan pelan dari dalam. Tiga kali.
Hendra berhenti. “Apa itu?”
Penasaran, dia mendekat, telinga menempel ke pintu. Rasa ingin tahu mengalahkan ketakutan. Tiba-tiba...
Brak!
Pintu bergetar keras dari dalam, seolah ada yang menggebrak balik. Hendra spontan mundur, bulu kuduk merinding.
“Holy shit...”
Di luar jendela, sungai riak pelan lagi, seperti tersenyum dalam kegelapan.
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK
JUDUL EPISODE 8: BAYANGAN DI TOL
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar