Hulu dan Hilir




Jumat malam (Hari ke-6) di suite utama Reza-Tari. Angin malam dari sungai menyusup melalui celah jendela, membawa aroma lembab tanah. Tari masuk setelah keributan di teras, wajahnya masih merah karena emosi. Reza duduk di tepi tempat tidur, memegang foto lama itu dengan tangan gemetar.


“Ini... aku temukan di laci meja, Mi,” kata Reza pelan, menyerahkan foto Haji muda bersama wanita dan bayi yang (menurutnya) mirip dirinya kecil.


Tari memeriksanya dekat lampu tidur. “Ih, mirip Papi ya waktu kecil? Tapi... Mami gak yakin 100% itu kamu, Pi. Bisa aja anak orang lain yang foto bareng Pak Haji.”


Reza langsung kesal, suaranya naik. “Kamu selalu gitu! Selalu ragu sama aku. Kalau ternyata aku anak biologis, warisan ini mutlak hak milik aku! Bukan dibagi tiga!”


Tari diam, matanya berkaca-kaca. Dia meletakkan foto itu di meja, lalu berbalik. Di luar jendela, suara sungai semakin bergolak, seperti ikut marah.


Sementara itu di kamar Dimas-Lina (kamar tengah menghadap gudang samping, cahaya lampu kuning redup). Dimas duduk di tepi tempat tidur, jarinya geser-geser layar ponsel hitung-hitungan.


“Kebun karet 100 hektar kalau dijual sekarang, wah... milyaran. Ditambah tanah 10 hektar ini, yassaman, total cukup untuk bukak 20 cabang ‘Rahman Mart’ di Palembang dan sekitarnyo,” gumam Dimas, matanya berbinar.


Lina gelisah, duduk di sebelahnya. “Menurutku rumah ini bagus, Pa. Jarang ado di Palembang rumah panggung seluas ini, off-grid pulo, dak pening bayar listrik. Aku senang suasananyo... tenang.”


Dimas menghela napas. “Ma, usaha karet kito yang di daerah Ogan Ilir itu gagal total, disita bank. Hutang kito belum lunas. Harto kito yang tinggal cuma rumah perumnas kecik di Palembang samo mobil di luar. Untung bae anak kito aman di asrama pesantren modern. Sekarang fokus warisan ini bae.”


Lina ingatkan pelan: “Menurut Bi Fatimah, yang idak boleh pergi tu cuma kamu bertigo lanang itu. Kami yang betino boleh keluar, kareno kami kan idak dapat hak waris langsung.”


Dimas tersenyum sinis. “Makonyo aku harus cepat jual sebelum keduluan yang lain punyo rencano. Apolagi Kak Reza itu. Caknyo nak nguasai dewek.”


-----


Sabtu pagi (Hari ke-7) di kolam ikan lele dekat sungai (pekarangan belakang, tak jauh dari dermaga kecil). Pagi cerah dengan kabut tipis masih menyelimuti air, aroma ikan segar dan tanah basah tercium. Pak Maman lagi kasih makan lele dengan tangan penuh pelet.


“Kolam ini hasil Tuan Haji, Dimas. Aku ingat nian waktu dia masih hidup, cita-citanyo ingin mandiri pangan,” kata Pak Maman sambil tersenyum.


Dimas pura-pura tertarik. “Hebat, Pak Maman. Ikan lele-nyo besak-besak yo?”


“Iyo. Makmano? Hari ini kito makan ikan lele goreng?” tanya Pak Maman riang.


“Boleh, Pak. Kelihatannyo lemak ikan lele ini,” jawab Dimas sambil tersenyum tipis. Tapi dalam hati, "Kalau aku berhasil jual semua ini, kamu dak perlu repot kasih makan ikan lagi, Pak."


Pak Maman melirik curiga, tapi diam saja.


Siang harinya di ruang tamu luas (lantai dasar, sofa minimalis nyaman, dinding panel geometris kayu khas Sumsel). Reza berdiri semangat di depan Hendra, Nadia, dan Lina.


“Kita kembangkan saja aset ini! Tanah 10 hektar jadi eco-resort kecil, kebun karet 100 hektar modernisasi. Passive income-nya bisa naik berkali-kali lipat!”


Tiba-tiba Dimas muncul dari pintu, langsung protes: “Apo dio kau ni, Kak Reza? Jual bae semua, kito bagi rato! Aku mau buka ritel, untuk apo bertani-berkebun macam begini?”


Perdebatan memanas. Reza: “Warisan ini amanah, bukan untuk dijual! Aku sependapat visi ayah angkatku—mandiri!”


Dimas, “Jangan mentang-mentang kamu anak angkat, Yo! Aku ini masih ponakan. Ado hubungan darah."


Reza emosi, tapi Tari menahannya.


Dimas, "Lagipulo itu visi lamo! Sekarang zaman hilirisasi, Kak! Bukan hulu mentah-mentah!"


Pak Bowo mengintip dari pintu dapur, wajahnya khawatir, tapi tidak ikut campur. Dia lalu pergi diam-diam.


Di gudang peralatan tani (yang juga rumah Bi Fatimah & Pak Bowo, aroma kayu dan tanah tercium). Bi Fatimah lagi merapikan pakaian jemuran. Pak Bowo masuk, napasnya agak cepat.


“Umak! Mereka sudah mulai berebut. Reza mau kembangkan tempat ini, Dimas mau-nyo jual bagi rato.”


Bi Fatimah menghela napas panjang. “Ay, makmano-lah, Ubak? Yang sikok anak angkat. Sikok lagi anaknyo sepupu, alias ponakan. Tuan Haji pasti ado alasan pilih mereka bertigo, Bak.”


Mereka saling pandang, khawatir tapi diam.


Sore di pekarangan dekat kebun sayur & ayam (tak jauh dari track jogging) sinar matahari sore hangat. Lina bantu Pak Bowo dan Pak Maman panen sayur, wajahnya cerah.


“Enak ya di sini, Pa. Udaranyo segar, biso nanam sendiri. Rasonyo hidup lagi,” kata Lina sambil memetik daun selada.


Dimas mendekat, kesal berbisik, “Ay kamu ni, Ma. Senang-senanglah, sebelum kagek aku jual."


Lina sewot, "Papa ini, dak boleh nian liat Mama seneng."


Sabtu malam di ruang makan besar. Semua makan bersama: Reza-Tari, Dimas-Lina, Hendra-Nadia, Bi Fatimah, Pak Bowo dan Pak Maman. Meja panjang penuh lauk sederhana kampung (termasuk lele tadi), cahaya lampu kuning hangat.


Pak Maman cerita sambil menyendok nasi: “Aku tinggal di desa seberang sungai, harus naik perahu setiap hari untuk ke sini. Kalau bukan gara-gara Tuan Haji kasih kerja, aku idak punyo apo-apo sekarang.”


Reza diam termenung, Dimas pura-pura cuek. Lina melirik Dimas penuh makna. 


Nadia menimpali pelan: “That’s touching, Pak Maman. Sekarang jarang ada orang yang mau kasih kita pekerjaan.”


Hendra mengangguk: “Ya, sepertinya Haji Rahman lebih dari sekadar bos. He built a community here.”


Bi Fatimah, Pak Bowo dan Pak Maman bingung dengan kalimat bahasa Inggris terakhir dari Nadia.


Hendra, "Maksudnya, Pak Haji secara tidak langsung sudah membuat semacam komunitas di sini. Sorry, kami keseringan bergaul dengan bule. Jadi bahasa kami suka tercampur Indonesia dan Inggris."


Pindah ke kamar Dimas-Lina malam itu. Lina marah, suaranya bergetar: “Kalau dijual, mak mano nasib orang baik seperti Pak Bowo, Pak Maman? Mereka tu bergantung hidup di sini, Pa!”


Dimas cuek, meletakkan ponsel: “Pertanian dan karet mentah harganya naik-turun. Sudahlah, Ma. Dak usah sok nak betani kamu tu!”


-----


Minggu pagi (hari ke-8) di pekarangan dekat kebun sayur. Dimas cerita ke Nadia sambil berjalan: “Ayahku dulu berseteru samo Haji soal bisnis karet, tapi mereka baikan sebelum meninggal. Makanya warisan ini hakku jugo, karena aku ado hubungan darah langsung.”


Nadia mengangguk: “Aku juga heran. Kenapa Hendra dipanggil ke sini? Padahal dia gak ada hubungan keluarga sama sekali?”


Tak jauh, Hendra lagi memotret Lina yang bergaya di antara tanaman sayur (Lina senang bantu Pak Bowo dan Pak Maman, tertawa sambil pegang keranjang). Dimas kesal lihat istrinya, lalu pergi ke gazebo dengan muka masam.


Di gazebo pinggir sungai, Bi Fatimah berdiri sendirian memandang air yang tenang, pegang amplop tua di tangan. Saat Dimas mendekat, Bi Fatimah pelan tapi tegas: “Dimas! Tuan Haji pernah bilang... Kalau ado yang ingin jual tanah warisannyo, sungai ini akan ingat.”


Bi Fatimah berbalik pergi, langkahnya pelan.


Dimas mendengus sinis: “Sungai biso ingat? Memangnyo sungai punyo otak? Omong kosong.”


Tapi tiba-tiba, sungai riak keras sekali—seperti ada sesuatu besar bergerak di bawah permukaan air, gelombang kecil menerpa dermaga. Dimas mundur selangkah, mata melebar ketakutan: “Apo dio itu...?”


Air sungai terasa lebih dingin menyentuh dermaga, seolah ada hembusan angin dari bawah permukaan.


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK

JUDUL EPISODE 3: HULU DAN HILIR

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangkit Dari Bangkrut

Rumah Panggung di Tepi Sungai Meriak

Warisan Sungai Meriak