Ketukan di Balik Pintu



Senin malam (Hari ke-9) di koridor lantai dua rumah panggung, lampu temaram kuning membuat bayangan panjang di dinding kayu. Hendra dan Nadia berhenti tepat di depan salah satu kamar kosong yang dilarang dibuka. Suara ketukan pelan tadi sudah berhenti, tapi udara terasa lebih dingin, seperti ada hembusan dari celah pintu.


Hendra menempelkan telinga ke pintu kayu. “Hear a noise... seperti gesekan kertas atau sesuatu yang ringan.”


Nadia mundur setengah langkah. “We shouldn’t be here. Bi Fatimah bilang, gak boleh dibuka.”


Hendra menggeleng pelan. “Tapi kalau kita nggak tahu, misteri ini akan terus mengganggu. I just want to catch a bit of it."


Mereka saling pandang, lalu Hendra pelan coba pegang gagang pintu—Tiba-tiba... Pintu perlahan membuka sendiri. Hendra dan Nadia saling pandang, tegang. Angin dingin keluar dari celah, membawa bau kertas lama dan sesuatu yang samar seperti parfum masa lalu.

Mereka memandang ke dalam "kamar 1 larangan" yang gelap. Nadia menghidupkan senter gawai-nya, samar-samar terlihat ada sebuah buku tua di atas meja. Buku itu seperti meminta untuk diambil, Hendra pun dengan hati-hati memegangnya.


Ada suara langkah kaki naik tangga. Hendra dan Nadia keluar, pintu menutup sendiri. Tapi pas cek terkait langkah kaki naik tangga, gak ada orang. Hendra dan Nadia semakin heran. Mereka bergegas masuk ke kamar.


Tiba di kamar itu, Hendra dan Nadia langsung membuka buku tersebut. Jelas sudah, itu adalah buku diary Haji Rahman. Hendra membukanya dan menemukan tulisan yang berbunyi, "Hari ini aku tahu Hendra adalah anak sahabatku... dia yang akan ungkap rahasia yang aku pendam di sungai."


Nadia, "What should we do with this diary?".


Hendra, "Kita pelajari. But remember, this stays between us."


Nadia mengangguk, paham.


Di kamar Reza dan Tari, mereka sudah di tempat tidur. Tari merasa bahwa dia makin gak betah tinggal di tempat itu. 


Reza, "Mi. Kamu harus nerima keadaan kita saat ini. Udah untung Bi Fatimah nalangin biaya kuliah anak kita."


Tari terdiam.


Sedangkan di kamar Dimas dan Lina, Lina sedang mengerok punggung Dimas. 


Dimas, "Tujuan kito ke sini tuh untuk dapat warisan, bukan ngurus sayuran."


Lina, "Papa ini. Urus sayuran itu buat Mama sehat, Pa. Liat bae, Papa kebanyakan mikir warisan malah masuk angin mak ini."


Di kamarnya, Nadia sudah tidur. Sedangkan mata Hendra belum terpejam, meski dia sudah berbaring. Hendra sulit tidur, pikirannya penuh dengan catatan Haji: “Hendra... anak sahabatku. Dia yang akan ungkap semuanya.”


-----


Selasa pagi hari ke-10 tepatnya di beranda kecil gudang. Hendra dan Nadia menemui Bi Fatimah.


Hendra langsung tanya pelan: “Bi, kamar-kamar kosong itu... kenapa tak boleh dibuka? Ada apa di dalamnya?”


Bi Fatimah tersenyum tipis, tapi matanya tajam. “Itu pesan Tuan Haji. Beliau bilang, 2 kamar itu baru boleh dibuka kalau kalian bertigo sudah sepakat seperti keluarga.”


Hendra dan Nadia saling pandang. 


Nadia, "Apa selama ini Bibi pernah liat ada yang aneh dengan kamar itu?"


Fatimah diam sesaat, lantas bercerita, "Satu bulan setelah Tuan Haji meninggal, Bibi pernah menemukan ado yang aneh dengan kamar itu. Waktu itu Bibi lewat pas malam hari, tiba-tiba, pintunyo membuka sendiri."


Hendra kaget, ingin rasanya memberitahu Bi Fatimah apa yang dia alami dengan Nadia semalam.


Bi Fatimah melanjutkan, "Waktu Bibi mau nutup, pintu itu tertutup sendiri. Besoknyo Bibi bereskan kamar nomer 1, sekalian kamar nomer 2."


Hendra, "Kesimpulan Bibi mengenai kamar itu, gimana?"


Bi Fatimah, "Rumah itu punya nyawa, Hendra. Dio punyo hati, samo seperti kita manusio".


Hendra dan Nadia makin heran dengan penjelasan Bi Fatimah.


-----


Hari pun berganti, tak terasa sudah Jumat siang hari ke-13. Usai sholat Jumat, Dimas mengajak Hendra pergi dengan mobilnya. Hendra menoleh ke Reza. Karena Jumat sebelumnya Reza sudah pergi, sekarang giliran Dimas. Reza hanya ingatkan, agar jangan lama-lama, nanti warisan hangus, dan mereka semua nggak kebagian.


Minimarket Simpang Segayam. Hendra masuk hendak berbelanja, sedang Dimas langsung senang, karena sinyal kuat. Dimas menelpon temannya, pengusaha di Palembang. Terkait rencana menjual rumah.


Tari, Lina dan Nadia heran Reza pulang sendiri. Reza menjelaskannya ke mereka. Bi Fatimah yang ada di ruangan itu menatap mereka dengan perasaan aneh.


Singkat kata, siang itu juga Dimas dan Hendra sudah kembali. Saat mobil Dimas parkir dan mereka keluar, Pak Bowo memperingatkan.


"Kamu dak pacak menjual rumah ini sendiri, Dimas. Harus kesepakatan samo samo."


Dimas, "Hendra setuju kok, Pak. Buktinyo dio ikut aku."


Hendra tidak suka dengan cara Dimas menuduhnya, tapi Pak Bowo menahan Hendra bicara.


Pak Bowo, "Kamu jangan nuduh Hendra. Aku tahu Hendra orangnyo idak seperti itu."


Dimas cuek, "Yang dapat warisan kan aku, bukan kamu, Pak Bowo"


Dimas masuk ke dalam rumah. 


Hendra, "Maaf, Pak Bowo. Saya hanya menemani Dimas barusan."


Pak Bowo mengangguk, mengiyakan.


Semua berkumpul di gazebo dan sekitarnya sore itu. Para lelaki ada di pinggir sungai, mereka berenang. Reza dan Hendra berhasil ke tepian. Namun tiba-tiba...


Dimas, "Tolooong!"


Dimas tak bisa berenang ke tepi. Yang lain heran, menyangka Dimas bercanda. Tapi teriakan Dimas minta tolong semakin kuat. Air sungai Meriak tiba-tiba bergolak lagi, seperti menarik Dimas ke tengah.

Dimas seperti orang yang mau tenggelam.


Apa yang sebenarnya terjadi?


BERSAMBUNG...

=====

JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK

JUDUL EPISODE 5: KETUKAN DI BALIK PINTU

Oleh: Lolo Tukang Ketik

-----



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangkit Dari Bangkrut

Rumah Panggung di Tepi Sungai Meriak

Warisan Sungai Meriak