Kutukan Sungai Meriak
Jumat sore (Hari ke-13) di tepi Sungai Meriak, matahari condong ke barat, cahaya jingga memantul di permukaan air yang tiba-tiba gelisah. Teriakan Dimas memecah keheningan: “Tolooong! Tolong akuuu!”
Reza, Hendra, Lina, Nadia, dan Tari berlari ke dermaga kecil. Dimas terombang-ambing di tengah arus, tangannya meronta tapi tubuhnya seperti ditarik ke bawah. Air yang tadinya tenang kini bergolak hebat, riak-riaknya membentuk pusaran kecil seolah ada tangan tak terlihat mencengkeram kakinya.
Reza lompat ke air dangkal tanpa ragu. “Dimas! Pegang tanganku!”
Hendra ikut masuk, berenang melawan arus dingin yang menusuk tulang. “Hold on, Dimas! Jangan panik!”
Lina berteriak dari tepi, tangannya menutup mulut. “Pa! Jangan lepas!”
Nadia dan Tari buru-buru ambil perahu dayung. Nadia berteriak: “We’re coming! Hang in there!”
Arus semakin ganas, seolah sungai marah. Dimas sempat tenggelam sebentar, muncul lagi dengan muka pucat pasi, mulutnya penuh air keruh, matanya penuh ketakutan. Hendra berhasil pegang lengan Dimas, tarik kuat. Reza dari sisi lain pegang bahu. Bersama mereka seret Dimas ke tepian berlumpur, bau tanah basah dan lumut langsung menyengat.
Dimas batuk-batuk hebat, napas tersengal. Tubuhnya gemetar hebat. Lina langsung peluk suaminya, menangis tersedu. “Pa... Pa... untung selamat...”
Reza dan Hendra saling pandang, napas masih berat. Sungai di belakang mereka perlahan tenang, riaknya hilang seolah tak pernah ada apa-apa.
Hendra berbisik ke Reza: “Ini bukan kebetulan. Sungai ini... seperti menariknya.”
Reza mengangguk pelan, mata masih tertuju ke air. “Tapi sekarang sungainya tenang lagi. Aku juga heran.”
Malamnya di ruang makan, suasana hening berat. Dimas duduk dengan selimut di bahu, wajah pucat, tangan pegang cangkir teh hangat. Lina di sebelahnya, tak lepas genggam tangan suaminya.
Bi Fatimah masuk bawa bubur ayam. “Dimas, makan dulu. Tubuhmu butuh tenaga.”
Dimas angkat muka pelan. “Aku... hampir mati tadi. Sungai itu... seperti hidup.”
Bi Fatimah mengangguk. “Sungai Meriak bukan sungai biasa. Tuan Haji pernah bilang, dia saksi segalanya—baik dan buruk.”
Di kamar Pak Bowo dan Bi Fatimah (gudang yang sudah jadi rumah sederhana, aroma kayu dan obat gosok tercium). Pak Bowo sedang membersihkan peralatan memancing. Bi Fatimah masuk, wajahnya tegang.
Bi Fatimah: “Bak! Kamu sudah tahu?”
Pak Bowo mengangguk pelan. “Sudah. Kutukan sungai Meriak sudah menampakkan wujudnyo.”
Bi Fatimah: “Apo idak akan berbahaya bagi mereka?”
Pak Bowo merenung. “Selamo kito masih selaras dengan ‘sumpah Tuan Haji’, kuraso dak katek masalah.”
Di kamar Dimas dan Lina, Dimas duduk bersender di tempat tidur, Lina di kursi sebelah, khawatir menatap suaminya.
Lina: “Kuraso. Kamu dak usah lagi nak jual rumah ini, Pa?”
Dimas menggeleng tegas. “Idak. Aku dak boleh mundur. Aku tetap akan jual warisan ini.”
Lina kesal, suaranya bergetar. “Kamu jangan ngomong sembarangan, Pa. Kamu tadi lah hampir mati. Ngapo kamu masih ngotot?”
Dimas diam sejenak, lalu jawab pelan: “Kito dak katek pilihan lain, Ma. Dan aku dak mungkin tinggal di tempat mak ini sambil betani.”
Lina menunduk, tak bisa lagi membujuk.
-----
Pagi Minggu (Hari ke-15) di gazebo pinggir sungai, Reza, Dimas, dan Hendra duduk memandangi air yang kembali tenang. Udara pagi segar, tapi suasana berat.
Reza: “Logikanya nggak masuk akal. Sungai nggak bisa marah atau ingat niat orang.”
Dimas: “Tapi aku rasain sendiri. Arusnyo tarik aku ke bawah, seperti ado yang pegang kaki ini.”
Hendra: “Mungkin bukan sungai-nya yang marah. Mungkin... sesuatu di dalamnya yang menjaga sumpah Haji.”
Tiba-tiba Pak Maman datang, diikuti seorang pria paruh baya berpakaian sederhana tapi aura-nya berbeda—seperti orang yang biasa bergaul dengan hal-hal gaib. Namanya Mang Meron, 55 tahun.
Pak Maman: “Ini Mang Meron, orang yang paham soal sungai Meriak.”
Mang Meron duduk, suaranya pelan tapi berwibawa. “27 tahun lalu, rumah lama keluarga Haji Rahman adalah rumah terkutuk. Untuk hilangkan kutukan, Tuan Haji renovasi rumah hingga jadi seperti sekarang.”
Reza, “Kutukan apa, Mang?”
Mang Meron: “Kutukan sungai Meriak. Orang dulu bilang, sungai ini punya penjaga. Kalau ada yang berniat jahat ke tanah warisan, penjaga itu akan menariknya. Tuan Haji tahu itu, makanya dia buat sumpah: jangan jual, jangan bagi kalau belum jadi keluarga sejati.”
Dimas diam, tapi matanya gelisah.
Malamnya di kamar Hendra-Nadia, Nadia sedang edit foto sungai. Hendra buka diary lagi, temukan halaman baru yang terselip:
“Kutukan sungai Meriak sudah meminta korban. Sahabatku, meninggal dalam kecelakaan mobil pulang dari sini.”
Hendra terpaku. Nadia lihat ekspresinya. “What’s wrong?”
Hendra suaranya bergetar: “Sahabatku... itu orang tuaku. Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil setelah dari sini. Aku pikir itu kecelakaan biasa. Tapi sekarang...”
Nadia pegang tangan Hendra. “So the river... took them too?”
Hendra menatap foto sungai di laptop. “Probably. Dan sekarang giliran Dimas.”
Di luar, sungai kembali tenang, tapi angin malam mulai bertiup dingin dari hulu, membawa bisikan samar yang tak bisa didengar jelas.
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK
JUDUL EPISODE 6: KUTUKAN SUNGAI MERIAK
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar