Peti Yang Terbuka
Senin malam hari ke-91 pintu bergetar keras dari dalam, seolah ada yang menggebrak balik. Hendra spontan mundur, bulu kuduk merinding.
“Holy shit...”
Tapi entah kenapa, sepertinya hanya Hendra yang mengalami, yang lain seakan tak mendengar, hening. Hendra masuk ke kamar menemui Nadia, dan perempuan itu tidak mendengar kejadian apa-apa. Di luar jendela, riak sungai bergerak pelan lagi, seperti tersenyum dalam kegelapan.
-----
Selasa pagi hari ke-92, Hendra terbangun kaget, nafasnya tersengal-sengal, seperti baru saja mengalami mimpi buruk. Nadia yang baru selesai membuka jendela heran bertanya, "What's wrong?"
Hendra, "I just dreamed about... Haji Rahman. Dia bilang, diary itu jangan ditaruh kembali ke perpustakaan. That belongs to me."
Nadia terdiam, ia mengerti maksud Hendra. "Diary itu... sepertinya memang ditujukan untuk kamu. It doesn't belong to the library anymore. Maybe... Itu pesan pribadi dari Haji ke anak sahabatnya.”
Hendra mengangguk pelan.
Siangnya, semua berkumpul makan siang. Hendra angkat bicara sambil pegang diary: “Diary ini sepertinya hak milikku. Haji bilang lewat mimpi semalam—jangan kembalikan ke perpustakaan. Ini amanah untukku.”
Reza mengangguk. “Kalau begitu, simpan saja. Yang penting kita gunakan isinya untuk hilangkan kutukan.”
Dimas, masih agak pucat dari kejadian sebelumnya, menambahkan: “Aku ikut. Kalau diary bilang peti di sungai harus kito angkat samo samo, payo bareng bareng!”
Lina pegang tangan suaminya, lega melihat Dimas mulai berubah.
Sore di pinggir sungai, Mang Meron memimpin ritual kecil lagi sebelum angkat peti. Mereka semua (Reza, Dimas, Hendra, Lina, Tari, Nadia, Bi Fatimah, Pak Bowo, Pak Maman) berdiri di dermaga kecil. Mang Meron tabur bunga dan mantra pelan. Air sungai bergoyang lembut, seolah setuju.
Mang Meron: “Peti ini dijaga penjaga sungai. Kalian harus angkat dengan hati bersih, bersama-sama.”
Mereka gunakan tali panjang dan perahu dayung. Reza dan Hendra turun ke air dangkal, Dimas ikut pegang tali dari perahu. Setelah beberapa tarikan, peti besi kecil anti karat dan anti air muncul dari dasar sungai, berat tapi tak terlalu dalam.
Reza, Dimas, Hendra bahkan Mang Meron angkat peti itu ke dermaga. Namun tanpa sepengetahuan yang lain, Mang Meron ambil batu aneh seukuran kelingking yang menempel di samping peti, untuk kemudian dimasukkan ke dalam saku celananya.
Peti tertutup rapat dengan gembok kombinasi angka. Mang Meron: “Buka dengan hati yang satu. Kalau niat kalian masih beda, peti ini tak akan terbuka.”
Reza, Dimas, dan Hendra saling pandang sambil memegang peti. Hendra lantas membuka diary lagi, mencari petunjuk. Di bagian belakang sampul dalam, tertulis tangan kecil Haji: “Gembok peti pakai kombinasi 6 angka, tanggal Hendra menyelamatkan aku.”
Hendra mengingat kembali tanggal penting itu, sekelebat kenangan saat dia menyelamatkan Haji Rahman yang nyaris ditabrak kereta.
Hendra memutar angka digembok sesuai ingatannya, yang lain menunggu penuh harap. Gembok berbunyi: Klik. Induk kunci itu pun terbuka. Mereka lantas membuka peti dan menemukan banyak kertas yang ditutup plastik kedap air.
Isinya:
- Surat wasiat kedua Haji (tulis tangan): “Kalau kalian bertiga bisa hidup bersama seperti keluarga, deposito dan semua aset boleh kalian kelola. Kalau tidak, sungai akan jaga sampai akhir zaman.”
- Bukti darah lengkap: akta kelahiran Reza sebagai anak kandung Haji dari pernikahan rahasia, surat pengakuan Dimas sebagai ponakan dari garis sepupu, dan surat sahabat Haji (orang tua Hendra) yang meminta Haji lindungi keturunannya.
- Foto lama: Haji muda bersama sahabatnya (orang tua Hendra) di tepi sungai yang sama.
Semua diam. Dimas menangis pelan. “Aku ini... cuma ponakan. Aku hampir bae jual warisan Haji Rahman.”
Lina peluk suaminya. Tari pegang tangan Reza. Hendra memegang foto itu, air mata menetes: “Orang tuaku... mereka korban kutukan, karena niat jual dulu.”
Malam-nya di ruang tamu, semua duduk melingkar. Bi Fatimah sambil memegang amplop tua: “Ini baru awal. Deposito amanah Haji masih di bank. Kalian harus ke sano samo-samo untuk akses.”
Tiba-tiba mata Reza berbinar. “Deposito itu... kalau kita ambil sekarang, bisa langsung kembangkan eco-resort. Modal besar!”
Dimas menggeleng. “Kak Reza, jangan. Kito baru saja lihat peti. Kito harus pakai deposito sesuai amanah—untuk samo samo, bukan untuk kepentingan sikok uwong.”
Reza tersadar, malu. "Astaga. Maaf. Aku terlalu bersemangat.”
Hendra: “Kita harus ke bank besok. Together.”
-----
Rabu siang hari ke-93, Reza-Dimas-Hendra pulang dari bank. Ternyata urusan deposito tak semudah yang mereka kira. Deposito tak bisa diambil "pokok"-nya, yang diambil hanya bunganya saja. Jatuh tempo deposito 1 tahun lagi, itu artinya setelah 365 hari mereka tinggal di situ. Bunga itulah yang menjadi salah satu passive income mereka selama tinggal di tempat tersebut, dan yang boleh ambil hanya Bi Fatimah. Nanti kalau deposito sudah jatuh tempo, baru deh boleh mereka memutuskan apa langkah selanjutnya.
Reza menghela napas panjang di ruang tamu. “Jadi bunganya saja yang bisa dipakai sekarang. Pokok-nya terkunci sampai 1 tahun lagi.”
Dimas mengangguk pelan. “Ini amanah Haji Rahman. Kito harus sabar.”
Hendra: “Mungkin ini cara Haji memaksa kita tinggal bersama lebih lama.”
Bi Fatimah tersenyum tipis dari pintu. “Benar. Tuan Haji ingin kalian belajar dulu jadi keluargo, sebelum pegang harto besar ini.”
-----
Hari berganti hari, tibalah di Jumat pagi hari ke-120 - ruang tamu, semua kaget dapat kabar dari Pak Maman: Mang Meron meninggal dunia malam tadi. Pak Maman: “Sejak kalian angkat peti, Mang Meron bilang kutukan masih ado. Dio idak biso cerito ke siapo-siapo. Pas akhirnyo ngomong ke tetanggo, tiba-tiba dio jatuh dan meninggal semalam.”
Semua terpaku. Sungai di luar riak pelan lagi, seolah belum selesai.
Dimas gemetar. “Kutukan masih ado...”
Reza: “Mang Meron meninggal malam Jumat. Apolagi yang diminta sungai itu?"
Hendra memegang diary. “Atau... ada yang belum kita ungkap.”
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK
JUDUL EPISODE 9: PETI YANG TERBUKA
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar