Tamu Yang Tak Datang
Tak terasa sudah enam minggu mereka tinggal di rumah panggung tepi Sungai Meriak. Hari Minggu pagi (Hari ke-43), udara pagi segar, kabut tipis masih menyelimuti pekarangan. Dimas berdiri di teras depan, sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya, wajah gelisah.
Lina pulang dari kebun membawa keranjang sayur, melihat suaminya. “Pa, kamu nunggu siapo? Dari tadi gelisah nian.”
Dimas menghindar pandang. “Idak nunggu siapo-siapo. Cuma lagi mikir bae.”
Lina curiga, tapi tak memaksa. Dia masuk rumah dengan langkah berat, khawatir suaminya kembali merencanakan sesuatu yang berbahaya.
Di dapur stainless steel, Reza, Tari, Hendra, dan Nadia sedang ngobrol. Aroma kopi pagi tercium samar.
Reza: “Rencana eco-resort kecil di tanah 10 hektar ini butuh modal besar. Passive income dari deposito mungkin cukup untuk mulai, tapi kita harus akses dulu.”
Hendra: “That makes sense. Bank Aman kan yang pegang. Kita harus ke sana bersama.”
Obrolan terhenti saat Lina masuk, wajahnya cemas. “Suami aku pasti lagi nunggu seseorang. Dio idak mau ngaku. Aku takut dio nak ketemu orang yang mau beli rumah ini.”
Nadia: “We need to talk to him. Kalau dia masih mau jual, kutukan sungai kemarin bisa terjadi lagi.”
Reza dan Hendra langsung ke depan rumah.
Di teras depan, Dimas masih menunggu. Reza dan Hendra muncul.
Hendra: “Kak Dimas, urungkan niat jual rumah ini. Sungai Meriak waktu itu sudah kasih peringatan.”
Dimas mendengus. “Kalian masih percayo samo mistis? Menjual justru menyelamatkan kito dari kutukan.”
Reza: “Ini bukan soal kutukan. Ini soal sumpah Haji. Kalau kamu jual, kita semua rugi.”
Ponsel Dimas berbunyi. Pesan masuk: “Maaf, Pak Dimas. Gak bisa pagi ini. Sore baru bisa ke sana. – Dedi.”
Dimas kesal, langsung salahkan Reza dan Hendra. “Ini gara-gara kalian! Kalau idak ribut, dio pasti sudah datang!” Dimas masuk rumah dengan langkah cepat.
Di ruang makan, Dimas bertemu Lina lagi. Lina: “Pa, kamu nunggu siapo? Jangan bikin aku khawatir lagi.”
Dimas jengkel: “Ngapo semua orang di rumah ini percayo hal-hal mistis? Aku cuma mau selamatkan kito dari kehidupan susah!”
Lina tak bisa jawab. Dimas naik ke lantai atas lewat tangga kayu yang berderit.
Di teras depan rumah, Reza heran. “Hendra, darimana kamu tahu rumah ini terkutuk dan sungai ini penjaga kutukan?”
Untuk pertama kali Hendra tunjukkan diary Haji yang dia ambil dari kamar kosong. “Ini dari diary Haji. Orang tuaku dan Haji dulu berniat jual rumah ini. Itulah yang memicu kutukan. Dan rumah ini belum 100% selesai renovasi menurut diary—baru sekitar 80%. Makanya kutukannya masih ada.”
Reza terdiam. “Jadi... kalau kita selesaikan renovasi atau sumpah Haji, kutukan hilang?”
Hendra mengangguk pelan. “Maybe.”
Siang hari di ruang makan, semua berkumpul—Reza-Tari, Dimas-Lina, Hendra-Nadia, Bi Fatimah, Pak Bowo, Pak Maman. Hari ini Tari yang masak: ayam goreng ala kota dengan sambal matah dan lalapan segar. Semua memuji.
Tari tersenyum tipis: “Masih kangen masak di apartemen Jakarta. Tapi... jujur, aku sudah jenuh 6 minggu tak keluar rumah. Kalau boleh, aku ingin keluar sejenak, menenangkan diri.”
Bi Fatimah mengangguk. “Para perempuan boleh keluar, Tari. Yang idak boleh cuma para pewaris.”
Tari senang bukan main sambil menoleh ke Lina.
Sore di parkiran, Lina, Tari, dan Nadia berkemas. Rencana mereka menginap di Palembang, sekaligus jenguk anak Dimas-Lina di pesantren. Dimas awalnya tak izinkan, tapi Lina ngotot. “Kamu hampir mati kemarin, Pa. Aku butuh keluar sebentar.”
Akhirnya Dimas mengalah. Mereka berangkat diantar Reza, Dimas, Hendra, dan Bi Fatimah.
Malamnya di ruang tamu, Dimas masih gelisah. Teman pengusahanya tak kunjung datang. Hendra dan Reza muncul.
Hendra: “Kak Dimas, sebaiknya kita istirahat. Hari sudah malam.”
Dimas makin tak percaya. “Duit sudah di depan mata, malah disuruh istirahat? Makmano kau ni?”
Hujan pun turun. Tiba-tiba terdengar suara klakson dari depan gerbang. Dimas bergegas keluar. Reza dan Hendra menyusul.
Ternyata mobil polisi. Lampu biru-merah berkedip di kegelapan. Dua polisi turun, wajah serius.
Polisi: “Selamat malam. Kami cari Bapak Dimas Wijaya. Ada kejadian kecelakaan di tol Palembang-Indralaya. Korban tewas Bapak Dedi, pengusaha. Di handphone korban, kontak terakhir adalah Bapak Dimas. Kami perlu keterangan.”
Dimas terpaku, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar. Lututnya seperti lemas. Reza dan Hendra saling pandang. Sungai di kejauhan kembali riak pelan, seolah ikut mendengar berita itu.
BERSAMBUNG...
=====
JUDUL: WARISAN SUNGAI MERIAK
JUDUL EPISODE 7: TAMU YANG TAK DATANG
Oleh: Lolo Tukang Ketik
-----

Komentar
Posting Komentar