Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Satu Tahun, Satu Keluarga

Gambar
Rabu siang hari ke-363, rombongan teknisi internet satelit datang ke rumah panggung. Udara panas terik, tapi semua (Reza, Tari, Dimas, Lina, Hendra, Nadia) antusias menyambut. Para teknisi memasang dish antena di atap, kabel-kabel ditarik rapi ke ruang perpustakaan. Tari berdiri di teras, tangannya menutup mulut, matanya berbinar senang bukan main. Tari: “Akhirnya... internet kencang ada di sini.” Teknisi tersenyum. “Sudah selesai, Bu.” Malamnya, semua berkumpul di perpustakaan. Cahaya layar laptop dan hape menerangi wajah mereka. Mereka puas sekali akses internet kencang. Reza & Tari menelpon 2 anaknya di Yogya. Gambar jelas, suara tanpa lag. Anak-anak tertawa melihat wajah orang tua mereka. Dimas dan Lina menelpon anaknya di pesantren. Dimas memperlihatkan ruang perpustakaan via kamera. “Lihat, Nak. Rumah baru Papa-Mama sekarang punya internet. Nanti kalau libur, kamu bisa video call kapan bae.” Anaknya di pesantren: “Wah, keren, Pa! Kapan aku boleh main ke sana?” Nadia asik inte...

Barang Yang Harus Dikembalikan

Gambar
Siang setelah kabar Mang Meron meninggal (Hari ke-121), Reza-Dimas-Hendra-Pak Bowo-Pak Maman sholat jenazah di masjid bersama orang-orang kampung. Udara siang terasa panas dan lengket, tapi mereka tetap khusyuk. Setelah itu mereka memakamkan Mang Meron di pemakaman umum desa seberang sungai. Angin membawa bau tanah basah dari sungai, seolah ikut mengantar. Pulang dari pemakaman, mereka disambut oleh Bi Fatimah di teras rumah panggung. Reza: “Bi! Kalau kami pergi melayat Mang Meron ini dianggap melanggar aturan, kami terima.” Hendra: “Benar, Bi. Kami gak masalah, gak dapat warisan apa-apa.” Dimas: “Mungkin lebih baik warisan Haji Rahman untuk yayasan bae, Bi.” Bi Fatimah menggeleng pelan, senyum tipis di bibirnya. “Idak. Syarat itu idak berlaku untuk kejadian melayat. Kalian masih punya hak waris.” Reza, Dimas dan Hendra lega. Mereka saling pandang, napas terasa ringan. Beberapa minggu kemudian, tepatnya Rabu hari ke-147, istri Mang Meron datang ke rumah panggung. Perempuan paruh baya i...

Peti Yang Terbuka

Gambar
Senin malam hari ke-91 pintu bergetar keras dari dalam, seolah ada yang menggebrak balik. Hendra spontan mundur, bulu kuduk merinding. “Holy shit...” Tapi entah kenapa, sepertinya hanya Hendra yang mengalami, yang lain seakan tak mendengar, hening. Hendra masuk ke kamar menemui Nadia, dan perempuan itu tidak mendengar kejadian apa-apa. Di luar jendela, riak sungai bergerak pelan lagi, seperti tersenyum dalam kegelapan. ----- Selasa pagi hari ke-92, Hendra terbangun kaget, nafasnya tersengal-sengal, seperti baru saja mengalami mimpi buruk. Nadia yang baru selesai membuka jendela heran bertanya, "What's wrong?" Hendra, "I just dreamed about... Haji Rahman. Dia bilang, diary itu jangan ditaruh kembali ke perpustakaan. That belongs to me." Nadia terdiam, ia mengerti maksud Hendra. "Diary itu... sepertinya memang ditujukan untuk kamu. It doesn't belong to the library anymore. Maybe... Itu pesan pribadi dari Haji ke anak sahabatnya.” Hendra mengangguk pelan. ...

Bayangan di Tol

Gambar
Minggu malam (Hari ke-43) di teras depan rumah panggung, lampu taman kecil menyala redup, angin malam dari sungai membawa aroma lembab tanah. Dua polisi berdiri di depan mobil patroli, lampu biru-merah masih berkedip pelan di kegelapan. Dimas, Reza, dan Hendra mengantar mereka sampai parkiran depan rumah. Polisi senior mengangguk sopan. “Terima kasih keterangannya, Pak Dimas. Kami cuma butuh konfirmasi pesan terakhir. Kecelakaan di tol Palembang-Indralaya barusan, mobil Pak Dedi oleng, menabrak pembatas. Langsung tewas di tempat. Tidak ada tanda rem mendadak atau sabotase.” Dimas mengangguk lemas, wajahnya masih pucat. “Terima kasih, Pak.” Polisi yang lebih muda menimpali sambil melirik ke arah sungai: “Kami di sini sering dengar cerita soal Sungai Meriak. Orang-orang bilang sungai ini... punya ingatan sendiri. Tapi ya, itu cuma cerita rakyat.” Mereka berdua masuk mobil, lampu biru-merah menghilang di kegelapan jalan Kecamatan Muara Belida. Dimas, Reza, dan Hendra berdiri diam sejenak....

Tamu Yang Tak Datang

Gambar
Tak terasa sudah enam minggu mereka tinggal di rumah panggung tepi Sungai Meriak. Hari Minggu pagi (Hari ke-43), udara pagi segar, kabut tipis masih menyelimuti pekarangan. Dimas berdiri di teras depan, sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya, wajah gelisah. Lina pulang dari kebun membawa keranjang sayur, melihat suaminya. “Pa, kamu nunggu siapo? Dari tadi gelisah nian.” Dimas menghindar pandang. “Idak nunggu siapo-siapo. Cuma lagi mikir bae.” Lina curiga, tapi tak memaksa. Dia masuk rumah dengan langkah berat, khawatir suaminya kembali merencanakan sesuatu yang berbahaya. Di dapur stainless steel, Reza, Tari, Hendra, dan Nadia sedang ngobrol. Aroma kopi pagi tercium samar. Reza: “Rencana eco-resort kecil di tanah 10 hektar ini butuh modal besar. Passive income dari deposito mungkin cukup untuk mulai, tapi kita harus akses dulu.” Hendra: “That makes sense. Bank Aman kan yang pegang. Kita harus ke sana bersama.” Obrolan terhenti saat Lina masuk, wajahnya cemas. “Suami aku pasti...

Kutukan Sungai Meriak

Gambar
Jumat sore (Hari ke-13) di tepi Sungai Meriak, matahari condong ke barat, cahaya jingga memantul di permukaan air yang tiba-tiba gelisah. Teriakan Dimas memecah keheningan: “Tolooong! Tolong akuuu!” Reza, Hendra, Lina, Nadia, dan Tari berlari ke dermaga kecil. Dimas terombang-ambing di tengah arus, tangannya meronta tapi tubuhnya seperti ditarik ke bawah. Air yang tadinya tenang kini bergolak hebat, riak-riaknya membentuk pusaran kecil seolah ada tangan tak terlihat mencengkeram kakinya. Reza lompat ke air dangkal tanpa ragu. “Dimas! Pegang tanganku!” Hendra ikut masuk, berenang melawan arus dingin yang menusuk tulang. “Hold on, Dimas! Jangan panik!” Lina berteriak dari tepi, tangannya menutup mulut. “Pa! Jangan lepas!” Nadia dan Tari buru-buru ambil perahu dayung. Nadia berteriak: “We’re coming! Hang in there!” Arus semakin ganas, seolah sungai marah. Dimas sempat tenggelam sebentar, muncul lagi dengan muka pucat pasi, mulutnya penuh air keruh, matanya penuh ketakutan. Hendra berhasil...

Ketukan di Balik Pintu

Gambar
Senin malam (Hari ke-9) di koridor lantai dua rumah panggung, lampu temaram kuning membuat bayangan panjang di dinding kayu. Hendra dan Nadia berhenti tepat di depan salah satu kamar kosong yang dilarang dibuka. Suara ketukan pelan tadi sudah berhenti, tapi udara terasa lebih dingin, seperti ada hembusan dari celah pintu. Hendra menempelkan telinga ke pintu kayu. “Hear a noise... seperti gesekan kertas atau sesuatu yang ringan.” Nadia mundur setengah langkah. “We shouldn’t be here. Bi Fatimah bilang, gak boleh dibuka.” Hendra menggeleng pelan. “Tapi kalau kita nggak tahu, misteri ini akan terus mengganggu. I just want to catch a bit of it." Mereka saling pandang, lalu Hendra pelan coba pegang gagang pintu—Tiba-tiba... Pintu perlahan membuka sendiri. Hendra dan Nadia saling pandang, tegang. Angin dingin keluar dari celah, membawa bau kertas lama dan sesuatu yang samar seperti parfum masa lalu. Mereka memandang ke dalam "kamar 1 larangan" yang gelap. Nadia menghidupkan sen...

Catatan dari ASEAN

Gambar
Minggu pagi (Hari ke-8) di gazebo pinggir sungai Meriak, angin sepoi membawa aroma air tawar yang segar. Dimas masih berdiri tegang di sana, wajahnya pucat setelah riak keras tadi. Hendra lewat sambil bawa kamera, menghampiri dengan langkah santai. Dimas langsung ajak, “Hendra! Cepat  foto sungai ini. Aku barusan liat sesuatu... besak nian." Hendra mempersiapkan kameranya, "How big?" Dimas, "Besak pokoknyo. Kato Bi Fatimah tadi, sungai ini punyo otak. Biso ingat samo kito.” Hendra angkat alis, tak percaya. “Sungai punya otak? Come on, Bro. But alright, I'll take a photo for you." Dia angkat kamera, jepret beberapa kali permukaan air yang sudah tenang lagi. Hendra tersenyum tipis, seolah menghibur Dimas yang mulai kelihatan aneh, mata masih melirik sungai curiga. Siang harinya di dapur modern stainless steel, aroma sayur segar tercium saat Lina masuk bawa keranjang penuh tomat dan selada dari kebun. Nadia dan Tari sudah di sana, Nadia sibuk mengecek kamerany...

Hulu dan Hilir

Gambar
Jumat malam (Hari ke-6) di suite utama Reza-Tari. Angin malam dari sungai menyusup melalui celah jendela, membawa aroma lembab tanah. Tari masuk setelah keributan di teras, wajahnya masih merah karena emosi. Reza duduk di tepi tempat tidur, memegang foto lama itu dengan tangan gemetar. “Ini... aku temukan di laci meja, Mi,” kata Reza pelan, menyerahkan foto Haji muda bersama wanita dan bayi yang (menurutnya) mirip dirinya kecil. Tari memeriksanya dekat lampu tidur. “Ih, mirip Papi ya waktu kecil? Tapi... Mami gak yakin 100% itu kamu, Pi. Bisa aja anak orang lain yang foto bareng Pak Haji.” Reza langsung kesal, suaranya naik. “Kamu selalu gitu! Selalu ragu sama aku. Kalau ternyata aku anak biologis, warisan ini mutlak hak milik aku! Bukan dibagi tiga!” Tari diam, matanya berkaca-kaca. Dia meletakkan foto itu di meja, lalu berbalik. Di luar jendela, suara sungai semakin bergolak, seperti ikut marah. Sementara itu di kamar Dimas-Lina (kamar tengah menghadap gudang samping, cahaya lampu ku...